Marketer yang Tidak Suka Di-Marketing-in

Ini memang pesta rakyat.

Itu yang terlintas ketika jalan ke area ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, beberapa waktu lau untuk menikmati event Pekan Raya Indonesia 2017 yang berlangsung hingga tanggal 5 November nanti.

Berkunjung ke event seperti ini bukan sekedar utk "meninjau" diskon yang gila-gilaan (meskipun tetap kena godaannya juga), tapi juga menikmati brand-brand yang ada di lokasi. Siapa tau ada yg bisa di amati, tiru dan modifikasi (ATM), hehe.

Total ada 10 Hall yang digunakan dalam event ini. Berbagai stand tersedia untuk dikunjungi, mulai dari stand kuliner, fashion, elektronik, kerajinan, rumah tangga sampai otomotif yang menyediakan beragam produk baru maupun lama dengan dibungkus harga spesial promosi.

Selain brand yang sudah mapan seperti Matahari, Buccheri, Teh Kotak, Ultramilk, Toyota, Selis, ada juga brand yang saya baru kenal namanya tapi cukup nancep di ingatan yaitu The Boo Buster. Unik juga namanya sebagai bisnis yang menyediakan produk untuk bayi dan anak.

Event seperti ini juga menjadi titik pengamatan untuk ajang praktek direct marketing, dimana para marketer terlihat agresif menyapa dan mendekati pelanggan yang melintas di depan stand yang mereka jaga.

Lucunya, meski suka marketing dan getol belajar marketing, tapi saya ternyata kurang suka juga buat di-marketing-in, dalam artian didekati secara agresif untuk tawaran sebuah produk, kecuali kalau memang sebelumnya sudah punya niat cari produk tertentu.

Alhasil beberapa kali menggunakan strategi Kelok Sembilan nya Egy Maulana, alias kelit sana kelit sini. Kadang-kadang pake jurus semedi atau sedakep medeni dengan pandangan lurus ke depan supaya engga dideketin mba atau mas yg nawarin produknya. Hehe, maapin ya mba dan mas marketer, sayang brosur atau tenaganya kalau ngedeketin saya pas lagi gak pingin beli macam-macam ini, haha.

Di satu sisi salut dengan kemampuan para direct marketer ini, dan di sisi lain saya juga mulai menyadari kebenaran dari kalimat bahwa "orang tidak suka dijualin" meskipun pada dasarnya mereka suka membeli.

Joe Vitale dalam bukunya Hypnotic Writing, pernah menekankan tentang pentingnya membuat penawaran dengan melihat dari sudut pandang orang lain (pembaca) daripada keasyikan bercerita tentang fitur produk atau keunggulan kita sendiri. Disosiasi, itu istilah yang digunakan Dewa Eka Prayoga dalam bukunya, Komik Jago Jualan di halaman 157.

Dengan menggunakan teknik ini maka pembaca akan merasa lebih nyaman dan tidak melulu merasa di-jual-in yang malah bikin ilfil atau bosan dan ujung-ujungnya terjadi gagal transaksi.

Sepertinya masih banyak yang musti saya pelajari tentang cara menjual ini. Baik produk buku dan produk digital di cafebuku.com ini, peluang-peluang usaha di kampungbisnis, produk mentoring dan seminar usaha di saatnyajadipengusaha serta info umroh promo di kampungbarokah tampaknya masih harus melalui evaluasi panjang supaya bisa lebih Anda nikmati dalam penyajian artikel dan informasinya.

Semoga bisa menjadi lebih baik lagi.

Terimakasih sudah membaca artikel ringan ini. Sukses selalu untuk bisnis dan karir Anda.

Penulis :

Pindar,
Blogger & Internet Marketer @ cafebuku.com
Follow ig @ pindar.cafebuku
Add fb @pindar.nurcahya

Network :

Ads & Info :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *